|
Saturday, June 03, 2006 |
Black Canyon cafe, Centro, Bali |

http://www.delawareaudubon.org/images/coffee.jpg
71. Di kafe yang hampir tutup Kita singgah melengkapkan kenangan Yang penghabisan memanggil Meski nyaris kuyup dan gigil Oleh hujan penghujung tahun Yang meraung di paruh malam Sejak menjejak senja Cangkir kopi erat mendekap hangat Cengkraman jemari hitam kita Sloki teh keemasan boleh cemas menanti Menawarkan tajam pahitnya Tetapi pramusaji yang manis itu Masih tak kunjung letih Tersenyum ramah seolah menyajikan janji Namun kafe memang lebih lengang waktu itu Dengan cahaya yang telah memberat Dari lampu yang setengah melamun Mungkin juga merabun buta oleh kantuknya Namun kuta yang kelam dan tua Masih senantiasa bertahan dalam setia Berbisik dari balik gerimis yang tempiasnya Memburamkan kaca jendela Membiaskan pendar warna Seakan ingin membersihkan cerita Dari dusta di brosur wisata Ah, sengkarut dunia yang renta Jerit tengkar derita insan yang fana Diselingi teriakan para maniak yang gemar merakit bencana, Dan percaya punya hak rencanakan kiamat lebih mula Sedangkan kita kerap hanya terpana tanpa daya Seperti sartre yang sibuk hilir mudik Di dalam tempurung kepala Antara ada dan tiada Juga beatles yang kali ini entah mengapa Agak memelas sayu bernyanyi Dan sajak-sajakku yang murung sunyi Dua lelaki di sudut ruang temaram itu Sejak tadi bertukar kisah dengan suara rendah mesra Adakah mereka sepasang kekasih yang sedang kasmaran Dan tengah menyusun janji-janji Tetapi kuta masih berbisik juga Pun ketika seorang pria Bergegas pergi menunggangi vespa butut Setelah menyerahkan heroin Di sela lipatan majalah Berapa sumbu nikotin sudah disulut Membatin di pembuluh darah dada Ini malam terakhir sebelum penerbangan kedua Mari kita cari ari di selarut ini Hujan telah berhenti sedari tadi Maka bertiga di tepian kolam yang masih baru birunya Kita pun telentang haru menyaksikan Konstelasi bintang dan samar kabut galaksi Di hujung jauh rentang bimasakti Menelanjangi nanar masa lalu, ranting silsilah, Membiarkan mimpi-mimpi terhuyung kesepian Lalu termangu lesu di bibir tidur memutih letih Dari fajar dini hari tinggal sebentar lagi Ari, rudi, biar sepanjang bentangan 1000 tahun Ini kali yang pertama sekaligus terakhir Kita bisa bersama Begini |
posted by hendragunawan @ 2:47 AM   |
|
|
|
|

89 :Rekuim Musim Gugur
Seperti engkau kukenal melambai dan memanggil Menghampir sesampai tapal penanggalan, antara april Dan mei, dengan sengal dingin menggigit gigil
Hingga hijau warna hutan kecil jadi bersalin Kuning, jingga, merah, juga suasa, dan hingar burung terdengar lain Melengking ke arah cuaca, namun terasa lebih murung, mungkin
Meratap oleh ulah musim yang dikirim genapi Upacara purba. Tetapi senyap sepimu menyekap surup hari; Malam tumbuh kian larat lagi sedangkan redup pagi
Bertambah lambat, dari tiga kerat Bulan yang sembab seolah selimut bulu, memberat Disebabkan basah lembab dan gelap kelabu. Namun lihat,
Seperti ikal dedaun digelung surya Tak mengeluh, bagai kelopak kemboja Mengilaukan igal kilat terakhirnya
Saat tanggal berluruhan lalu terserak di tepian jalan Aku pun akan tinggal tegak diam, membiarkan Jemarimu kelak menelanjangi kelamku, kekal, perlahan. |
posted by hendragunawan @ 12:08 AM   |
|
|
|
|